Sunday, July 22, 2012
Kafe PLP
Selamat datang bulan Ramadhan. Kali ini saya dan teman - teman Palapsi melakukan event dana sekaligus untuk mengisi waktu di bulan Ramadhan. Event dana yang dilakukan yaitu membuka lapak untuk berjualan ta'jil di lembah UGM. Seperti kebiasaan setiap tahun, Lembah UGM memang menjadi lokasi dimana banyak orang berjualan makanan dan minuman untuk berbuka. Lokasi berjualan tepatnya di seberang pertigaan Fakultas Hukum, di depan kandang rusa. Ada beberapa jenis makanan yang dijual antara lain es buah, es kopyor, jelly punch, roti bakar dan juga pasta. Semangat berproses!
Rasakanlah
Hari dimana aku telah
menemukan arti.
Aku
Aku merasakan aku.
Benar ataupun salah, itu aku. Sayang ataupun sakit, itu aku. Aku berarti.
Aku
Tak terpikirkan orang
lain. Biarkan orang memilih, biarkan orang lain menilai apa yang ingin mereka
lakukan.
Aku
Segenggam hati berisi
perasaan cinta dan kasih. Memang sakit, perih. Sudahlah. Percayalah bahwa semua
itu penuh makna. Jika seseorang yang sangat aku sayangi menghilang, ikhlaskan.
Biarkan sinar matahari, bulan dan bintang mengiringi langkahnya. Semoga hidupmu
bahagia.
Aku
Aku hidup. Hidup memang
penuh makna, penuh arti. Sudahlah. Aku kini memaknai apa yang terjadi. Tak ada
yang salah dengan cinta. Biarkan angin mengantarkan guguran guguran jiwa rapuh.
Biarkan jiwa itu pergi.
Aku
Bukan seseorang yang perlu dikasihani. Sudah cukup
kasih yang diberikan olehMu Tuhan. Aku masih bisa merasakan hidup. Aku masih
punya bahagia, suka cita, cinta dan kasih yang akan terus ada. Bersemayam di
setiap rongga rongga hati seorang laki laki. Aku tahu Tuhan mengerti. Karena
itu Ia menciptakan aku.
Aku
Menciptakan seorang aku agar bisa merasakan tegar.
Bukan orang lain. Biarkan masalah ini larut. Aku percaya suatu saat nanti,
Tuhan akan menunjukkan yang terbaik. Mengisi butir butir kisah dengan senyum
tawa yang sesungguhnya.
Kau
Rasakanlah. Setiap waktu yang berlalu nanti, biarkan cinta yang sebenarnya
hadir. Bukan hanya dari apa yang kau pikir dan apa yang kau rasa. Tapi dari
semuanya. Kasih sayang yang sebenarnya akan hadir. Hadir padamu. Rasakanlah.
Kejujuran pasti akan nyata. Kemudian berfikirlah. Berfikir dengan tulus,
ikhlas. Berfikirlah, mana yang benar. Kemudian jujurlah dengan apa yang kau rasa.
Jangan mengingkari, karena setiap helai kebohongan akan terbayar dengan luka.
Biarkan kekuatan kejujuran mengisi setiap warna kehidupan. Jika kejujuran
terasa perih, laluilah. Tetaplah pada kejujuranmu. Suatu saat nanti kau akan
merasakan. Siapa seseorang yang benar benar tulus memperhatikan dan
menyayangimu dengan hati.
Tuesday, July 17, 2012
Mulai Kembali
- Kini terlepas. Aku sudah berpindah dari
satu sisi kehancuran. Setidaknya sudah mulai merasakan indahnya kebahagiaan.
Aku sudah bisa tertawa. Suatu hal yang biasa dilakukan banyak orang, ini mulai
kurasakan. Hal yang pernah hilang, kembali seiring riang tawa orang orang
disekitarku. Ketika setitik aroma lembut harummu menerpa, kurasakan kesejukan
hati. Ya, itu kamu. Dan aku yakin itu kamu. Keyakinan yang pasti. Dan apabila
ikatan batin itu nyata, kita akan bersama. Aku tahu, kau dan aku kini dalam
kebimbangan dengan apa yang terjadi. Aku tetap yakin dengan hatiku, menunggu
hatimu untuk kembali, bersatu dalam bingkai indah keabadian.
Cerita Kepada Tuhan
-
Tuhan, sejujurnya aku masih dalam
keraguan. Aku masih dalam kegundahan jiwa. Batinku terus mencoba untuk ikhlas.
Aku merasakan. Ikhlas, tulus. Ya Allah, berikan aku petunjuk. Berikan aku satu
jalan yang pasti. Yang terbaik untuk semuanya dan yang terbaik untukku. Aku
tidak ingin menyakiti hati siapapun, aku ingin semuanya bahagia. Tunjukkan
jalan yang terbaik. Untukku untuk bertindak. Aku juga tak ingin batinku terus
tersiksa. Dan aku juga tak ingin orang lain terluka. Kemana aku mencari
petunjuk selain kepadaMu. Tunjukkanlah, tunjukkanlah ya Allah. Aku ingin
semuanya berlalu dengan kebahagiaan. Tak hanya kebahagiaan untuk sebagian, tapi
untuk semuanya. Semuanya tanpa ada batin yang terluka. Kembalikan kami yang
dulu. Kami bukan aku dan dia, tapi aku, dia dan seseorang yang juga aku
sayangi. Kami yang selalu bersama, kami yang selalu ada dalam suka maupun duka,
kami yang selalu berbagi.
Membuka Mata
Waktu senja di pagi hari. Bahkan ketika
mataku baru mulai membuka jendela kehidupan, kenapa tak ada rasa bahagia muncul
dari jiwa yang baru menghirup udara sejuk segar? Serta embun yang sedikit demi
sedikit menetes dari ujung ujung daun hijau dengan berjuta harapan indah. Namun
sirna. Tetesan cermin kesejukan dan kebahagiaan. Tapi berubah tangis, kenapa
dengan itu? Terus kau menghilang. Melihat aku seperti orang mati yang tak
berguna untuk apapun. Hingga mungkin kau berfikir aku tak memiliki rasa. Ya, aku
cuma bisa bertahan. Kau tahu tapi mengapa kau begitu. Semua aneh. Entah apa kau
memang tega, atau bagaimana yang kau ingin lakukan kepadaku. Aku benar benar
tak tahu. Bertahanlah ka, bertahanlah.bertahan dengan rasa cinta dan kasih
sayang yang dalam. Dan sampai sekarang, yakinlah dengan kepercayaanmu.
Kepercayaan yang memang di suatu sisi membuatmu ragu. Kehancuran dan
kebahagiaan seperti menampar di tiap bagian hati. Remukkan saja aku kalau
memang itu maumu. Namun bila itu bukan maksudmu, jangan terus kau begini. Aku
terambang dalam lautan kesedihan. Seperti ada seseorang yang menjulurkan
tanganya, kadang sirna, kadang nyata. Suatu saat nanti, dan apabila aku masih
bertahan dengan keyakinan ini, kembalikan aku. Dan aku rasa hanya kamu, dan
hanya kamu satu satunnya separuh jiwa yang bisa mengembalikan keadaan.
Mengembalikan semua jiwaku, yang tinggal kepingan kepingan kecil terpecah
berserakan. Aku ingin dan sangat ingin kita bahagia, tak hanya kamu, tak hanya
aku.
Tanpa Arah
Otak, pikiran,
logika, kemana kalian? Aku tak ingin terus tersungkur dalam jurang
kesendirian,semakin hancur dengan terpaan tebing tebing tajam yang semakin tak
beraturan.
Otak, pikiran, logika, dimana kalian bersembunyi? Hilang sekejap
meninggalkanku dengan satu masalah yang aku tak mampu mengatasi itu. Apa ini?
Sakit apa ini? Sakit yang tak kunjung usai, tak kunjung sirna meski waktu terus
berlalu. Tuhan, kembalikan aku. Kembalikan semua rasa cinta dihatiku. Hilangkan
luka ini. Aku sudah cukup merasakan pahit, aku sudah rapuh karena ini. Ya, cuma
karena ini. Satu hal yang mungkin hanya satu satunya hal yang bisa membuatku
hancur. Aku ingin tertawa lepas, aku ingin teriak dan melepas rasa pahit, muak,
benci, kecewa, amarah yang terpendam jauh didasar jiwa. Jiwa yang dulu penuh
cita, penuh asa dalam hidup. Ini bukan aku Tuhan, dimana aku berada? Utuhkan
jiwa, raga, pikiran, hati dan perasaan ini. Kembalikan aku, aku mohon.
Di Tepi Jurang Kehancuran
Friday, July 13, 2012
Bimbang
Seperti kereta yang
terus mengikuti alur kemana akan tertuju. Semua hati dan pikiran akan merasakan
apa yang sedang dialami. Tapi kamu tidak, aneh memang. Melihat logika dan
perasaan beradu untuk mencari apa sebenarnya ada di benakku. Apa yg terjadi padaku
saat ini. Aku tak tahu. Ingin biasa, ingin kembali bersama sukacita layaknya
anak kecil yang bermain tanpa lelah. Kenapa ini? Serasa semua menghilang. Semua
menjauh dan tinggal aku sendiri. Terpaku diatas tempaan besi berjajar yg
mengiringi langkahku untuk pergi. Aku ingin kembali, tapi entah bagaimana harus
terjadi.
During
Di Sudut Pintu Kereta
Terdiam
Dihempas arus, tersudut
dipusaran air. Yang terlintas berbeda. Aku rasakan kasih sayangmu Tuhan, tapi
tidak kau hilangkan saja ingatanku? Atau tutup saja mataku. Setidaknya aku
tidak lagi ada di masalah ini. Tak lagi hidup tanpa daya. Sempit memang. Namun
jalan apalagi untuk ini semua? Iya Tuhan, saya masih bertahan. Terimakasih atas
kasih yang kau beri. Kata demi kata mungkin tak sanggup lagi mewakili betapa
rapuh tak berdayanya aku dihadapan seseorang yang sangat aku sayangi. Apa yang
bisa kuperbuat? Dalam hati berkecamuk rasa cinta dan amarah. Tiada tempat lain
selain Engkau untuk ku beradu. Apa maksudnya Tuhan? Apa maksud dirinya? Aku
ingin tahu. Ya, sekedar tahu untuk aku bertahan. Bukan untuk apapun, tapi untuk
dirinya yang sangat aku sayangi.
During
Sungai Sampeyan
Entah
Kesekian, keberapapun,
perbuatan layaknya tak berdosa. Bebas lepas, dihempas buih buih gelombang air
menerpa. Hidup tak hidup. Batu besar bertahan arus. Membelah setiap terpaan
dosa, perih, dusta, benci, dengki, iri. Layak guguran daun kering, keriput. Tak
bernyawa, lepas dengan perlahan. Cinta terjatuh. Batang, ranting hanya terdiam.
Sendi sendi tak mengikat. Daun meninggalkan? Tidak.
During
Di Suatu Tempat
Monday, March 5, 2012
Air
Sebagian
besar atau bahkan setiap manusia lahir di permukaan bumi pasti menapakkan kaki
di daratan. Kemudian mereka beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka berada.
Berusaha menahan dingin di puncak tertinggi, melawan panas terik matahari di
gurun pasir dan juga berani menjelajah air yang notabene manusia tidak bisa
bernafas disana. Ya, air. Semua orang di dunia pasti tidak asing mendengar kata
–kata “air”. Manusia membutuhkan air untuk bisa hidup dan berkembang. Tapi apakah
setiap manusia bisa menjinakkan air? Saya rasa tidak. Tak semudah itu, tak
semudah yang kalian pikirkan. Ketika kalian harus dihadapkan dengan arus deras,
harus melewati jeram demi jeram dengan penuh rasa takut, apakah ketika dihadapkan
keadaan seperti itu kalian bisa berfikir rasional? Sebagian mungkin bisa, tapi
sebagian mungkin juga tidak. Itulah saya. Manusia yang mencoba menantang diri
sendiri, menghapus ketakutan melawan air. Entah kenapa saya seperti itu. Mereka
dapat tersenyum senang, sangat menikmati air. Sedangkan saya? Harus berkutat
dengan rasa takut, melawan diri saya sendiri untuk bisa melewatinya.
Saat
ini saya memang takut. Saya rasa ketakutan saya wajar bagi seseorang yang
memang masih belum bisa menjinakkan air. Tapi apakah saya harus terus seperti
ini? TIDAK. Dalam benak saya terus menguak teriakan – teriakan untuk dapat
melawan ketakutan yang saya rasakan. Manusia memang diciptakan dengan kelebihan
masing – masing. Tapi yang saya rasakan ini kelemahan, dan saya menyadari itu. Kelemahan
yang saat ini coba saya putar, berbalik menjadi kelebihan dan kekuatan. Memang berat.
Saya akan tetap berusaha, melawan ketakutan, menantang kelemahan dan pada
akhirnya saya harus bisa tersenyum bahagia ketika kelemahan berubah menjadi
kekuatan. Never Give Up!
Subscribe to:
Posts (Atom)